Millenial Social Climbers

Anak muda zaman now begitu bangga dengan jumlah likes atau shares post-ingan mereka di media sosial. Jumlah likes, shares, follows, atau semacamnya menjadi barometer kepopuleran dan strata sosial. Lucunya adalah tiap media sosial memiliki karateristik masing-masing orang yang berusaha (atau tidak sengaja) menjadi social climber.

Instagram

Foto jempol kaki dengan latar pantai biru dan pasir putih, atau sambil berpose romantis dengan pacar tercinta seolah akan menjadi pasangan selamanya (padahal mungkin bulan depan putus) untuk mencari komentar atau hashtag #couplegoals. Bisa juga foto diganti dengan petualangan hiking (baca traveling) ke gunung yang sedang hits.

Berpelukan dengan sahabat-sahabat sambil tersenyum imut dengan hashtag #squadgoals. Padahal mungkin saja kumpul-kumpul hanya sesekali dan ketika makan bareng pun sambil sibuk main smartphone masing-masing.

Foto-foto cantik senyum berhijab, terkadang agak berpose galak atau pura-pura candid. Padahal sebenarnya mencari ribuan likes dan followers untuk menunggu komentar atau pertanyaan “sis mau endorse boleh ga?”.

Line

Mengomentari isu-isu terkini tentang kehidupan sosial di Indonesia meskipun topiknya paling-paling berputar di sekitar rokok, budaya mengantri, ojek online, atau people in x country are so wow, why can’t Indonesiyen people become like them?

LinkedIn

Media sosial untuk profesional ini memiliki karakter social climbers yang paling berbeda. Umumnya mereka mendulang likes dari tulisan berbau karir seperti ini:

“Dulu aku gagal, dulu aku dipecat kantor, tetapi aku bangkit. Kemudian memberanikan diri untuk menjadi enterpreneur. Dan lihatlah aku sekarang sudah sukses. Kalianpun bisa seperti aku.”

***

NB: Tidak ada salahnya kok jadi social climbers, saya hanya mau numpang berkomentar saja.