Muhammad al-Hanafi Putra Ali

Muhammad al-Hanafi adalah putra Imam Ali bin Abi Thalib dari istrinya sepeninggal Sayyidah Fathimah az-Zahra, putri Rasulullah. Muhammad bin Ali al-Hanafi ini dikenal sangat berilmu. Di saat ia masih kecil, pernah di suatu majelis ia menjawab segala pertanyaan murid-murid dan sahabat yang diajukan kepada ayahnya. Kedalaman dan keluasan ilmunya tak diragukan lagi. Bagaimana tidak, ia adalah putra dari pintu kota ilmunya Rasulullah saw.

Suatu hari di tengah peperangan, Muhammad al-Hanafi diserahi pedang Dzulfiqar oleh ayahnya, Ali bin Abi Thalib. Pedang itu diwarisi oleh Imam Ali dari sepupunya, Rasulullah saw. Dengan gagahnya Muhammad bin Ali menumpas musuh-musuh Allah. Namun tiba-tiba, ia mendapatkan dirinya sudah dikepung oleh banyak musuh dari segala arah: depan, belakang, kanan, maupun kirinya. Agak kaget dengan situasi tersebut, ia pun sedikit mundur dan ragu.

Melihat adiknya dalam kondisi seperti itu, Hasan bin Ali segera mengambil pedang yang dipegang oleh Muhammad al-Hanafi dan menghabisi kepungan musuh-musuh Allah tanpa ragu sedikitpun, maju tak gentar sedikitpun.

Kemudian, Muhammad al-Hanafi pun merasa malu dengan kejadian itu. Meskipun ia telah menumpas banyak musuh dengan gagah berani, keraguannya yang sedetik itu membuatnya sangat malu, apalagi setelah melihat aksi heroik kakaknya, Al-Hasan.

Segera Imam Ali bin Abi Thalib mendatangi dan memeluk Muhammad al-Hanafi seraya berkata,

“Wahai anakku, janganlah engkau merasa malu. Dia (Hasan) adalah putra Rasulullah sedangkan engkau adalah putraku. Sangat wajar sekali engkau bertindak demikian.”

***

Shalawat serta salam mari senantiasa kita panjatkan untuk Rasulullah dan keluarganya.